Kewirausahaan seorang Peter firmansyah (Owner Petersaysdenim)



Pada masa SMA, Peter Firmansyah dahulunya sering mengubek-ubek tumpukan baju di pedagang kaki lima. Dan kini dia adalah pemilik usaha yang memproduksi busana yang sudah diekspor ke beberapa negara. Dengan tidak menunggu waktu yang lama semua itu dicapai oleh Peter hanya dalam waktu 1,5 tahun sejak dia membuka usahanya pada November 2008. Dan kini jeans,kaus,dan topi yang menggunakan brand merek Petersaysdenin, bahkan dipakau oleh para personel kelompok musik di luar negeri dan pada situs-situs initernet kelompok musik itu, label Petersaysdenim juga tertera sebagai sponsor band mereka dan Petersaysdenim juga bersanding dengan merek-merek kelas dunia yang menjadi sponsor, seperti Gibson, Fender, Peavey, dan Macbeth.

Peter memasang harga jeansnya mulai dari Rp 385.000, topi mulai Rp 200.000, tas mulai Rp 235.000, dan kaus mulai Rp 200.000. Hasrat Peter terhadap busana bermutu tumbuh saat dia masih SMA. Peter yang dulunya adalah seorang pegawai toko pada tahun 2003 kenal dengan banyak konsumennya dari kalangan berada dan sering berkumpul. Jiwa kewirausahaannya muncul ketika dia kerap melihat teman-temannya mengenakan busana mahal dan dia berpikir dan menahan keinginannya punya baju bagus dan kehidupan temannya yang sering pergi ke klub malam mabuk-mabukan dan ngebut pakai mobil dan peter tidak mengikuti kegiatan temannya tersebut. Peter melihat teman-temannya kelihatan bangga bahkan juga adayang sombong dengan baju, celana, dan sepatu yang mereka pakai. Harga celana jeans saja misalnya, bisa 3 jutaan dan perasaan bangga itulah yang ingin dimunculkan oleh Peter kalau konsumen mengenakan busana produknya.

Peter Dahulunya akrab dengan kemiskinan dan sewaktu kanak-kanak, perusahaan tempat ayahnya bekerja bangkrut sehingga ayahnya harus bekerja serabutan. Peter juga mengalami masa suram dan Orangtuanya sampai berhutang untuk mencukupi kebutuhan makan bagi anaknya. Sewaktu masih SMA, Peter terbiasa pergi ke kawasan perdagangan pakaian di Cibadak, yang oleh warga Bandung di pelesetkan sebagai Cimol alias Cibadak Mall, Bandung. Di kawasan itu dia berupaya mendapatkan produk bermerek, tetapi murah. Cimol saat ini sudah tidak ada lagi. Dulu terkenal sebagai tempat menjajakan busana yang dijual dalam tumpukan. Selepas SMA, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Widyatama, Bandung. Namun, biaya masuk perguruan tinggi dirasakan sangat berat, hingga Rp 5 juta. Uang itu pemberian kakeknya sebelum wafat. Tetapi, tak sampai sebulan Peter memutuskan keluar karena kekurangan biaya. Ia berselisih dengan orangtuanya. Perselisihan yang sempat disesali Peter karena sudah menghabiskan biaya besar.

Mulai dari nol

Peter  benar-benar memulai usahanya dari nol. Pendapatan selama menjadi pegawai toko disisihkan untuk mengumpulkan modal. Di sela-sela pekerjaannya, ia juga mengerjakan pesanan membuat busana. Dalam sebulan, Peter rata-rata membuat 100 potong jaket, sweter, atau kaus. Keuntungan yang diperoleh antara Rp 10.000- Rp 20.000 per potong. Gaji yang dia dapatkan hanya sekitar Rp 1 juta per bulan, tetapi hasil dari pekerjaan sampingan bisa mencapai Rp 2 juta. Penghasilan sampingan itu ia dapatkan selama dua tahun waktu menjadi pegawai toko hingga 2005. Pengalaman pahit juga pernah dialami Peter. Pada tahun 2008, misalnya, ia pernah ditipu temannya sendiri yang menyanggupi mengerjakan pesanan senilai Rp 14 juta. Pesanannya tak dikerjakan, sementara uang muka Rp 7 juta dibawa kabur. Pada 2007, Peter juga mengerjakan pesanan jins senilai Rp 30 juta, tetapi pemesan menolak membayar dengan alasan jins itu tak sesuai keinginannya. Dan akhirnya Peter terpaksa nombok. Jins dijual murah daripada tidak jadi apa-apa. Tetapi, dia  berusaha untuk tidak patah semangat.

Belajar menjahit, memotong, dan membuat desain juga dilakukan sendiri. Sewaktu masih sekolah di SMA Negeri 1 Cicalengka, Kabupaten Bandung, Peter juga sempat belajar menyablon. Ia berprinsip, siapa pun yang tahu cara membuat pakaian bisa dijadikan guru.
Peter  banyak belajar sejak lima tahun lalu saat sering keliling ke toko, pabrik, atau penjahit. Ia juga banyak bertanya cara mengirim produk ke luar negeri. Proses ekspor dipelajari sendiri dengan bertanya ke agen-agen pengiriman paket. Sejak 2007, Peter sudah sanggup membiayai pendidikan tiga adiknya. Seorang di antaranya sudah lulus dari perguruan tinggi dan bekerja. Peter bertekad mendorong dua adiknya yang lain untuk menyelesaikan pendidikan jenjang sarjana. Ia, bahkan, bisa membelikan mobil untuk orangtuanya dan merenovasi rumah mereka di Jalan Padasuka, Bandung. Kerja keras dan doa orangtua, kedua faktor itulah yang mendorong Peter bisa sukses. Peter memang ingin membuat senang orangtua, dan jika dananya sudah mencukupi, ia ingin orangtuanya juga bisa menunaikan ibadah haji. Meski kuliahnya tak rampung, Peter kini sering mengisi seminar-seminar di kampus. Ia ingin memberikan semangat kepada mereka yang berniat membuka usaha. Dan berkata “Mau anak kuli, buruh, atau petani, kalau punya keinginan dan bekerja keras, pasti ada jalan untuk menggeluti usaha seperti yang saya jalankan sekarang”.

Merek Petersaysdenim berasal dari Peter Says Sorry, nama kelompok musik. Posisi Peter dalam kelompok musik itu sebagai vokalis. Peter sebenarnya bingung mencari nama. dan karena dia menjual produk denim, nama mereknya jadi Petersaysdenim.
Peter memanfaatkan fungsi jejaring sosial di internet, seperti Facebook, Twitter, dan surat elektronik untuk promosi dan berkomunikasi dengan pengguna Petersaysdenim. Dan pada bulan juli dia berencana akan ke Kanada untuk bisnis. Teman-teman musisi disana ingin bertemu dengannya. Akan tetapi, ajakan bertemu itu baru dipenuhi jika urusan bisnis selesai. Ajakan itu juga bukan main-main karena Peter diperbolehkan ikut berkeliling tur dengan bus khusus mereka. Personel kelompok musik lainnya menuturkan, jika sempat berkunjung ke Indonesia ia sangat ingin bertemu Peter. Ia melebarkan sayap bisnis untuk memperlihatkan eksistensi Petersaysdenim terhadap konsumen asing. Peter bertekad mau menjajah negara-negara lain dan Peter  ingin tunjukkan bahwa Indonesia, khususnya Bandung, punya produk berkualitas.

reference by: http://www.kompas.com/

About infofoc

its all about information
Gallery | This entry was posted in Kewirausahaan dan Kuliner. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s